Prof.dr.Budu, Ph.D. Sp.M.(K), M.MedEd. Idul Adha Ditunggu dengan Suka Cita

Ramzy
Ramzy 199 Pembaca
6 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Dikisahkan bahwa saat-saat yang menyedihkan ini, Nabi Ismail berpesan dan meminta untuk diikat dengan kencang, pisaunya dipertajam dan gerakan sembelihannya dipercepat. Ia pun meminta salam kepada ibunya tercinta dan meminta agar wajahnya ditelungkupkan agar tak terlihat oleh ayahnya, kuatir menjadi cerita sedih untuk ayah dan ibunya.

Nabi Ibrahim melaksanakan semua permohonan dan permintaan putranya itu dan saat pisau mulai bergerak, saat itu pula Allah swt berfirman: yang artinya,ُ “Laluُ Kamiُ panggilُ dia,ُ ‘Wahaiُ Ibrahim!ُ Sungguh,ُ engkauُ telahُ membenarkanُ mimpiُ itu.’ُ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang ُkemudian.”ُ(QSُAs-Saffat: 104-108).

Itulah kisah ketegaran Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah swt. Dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, sekalipun nyawa akan menjadi taruhannya. Padahal di zaman itu, adalah zaman kekuatan raja dan zaman penuh dengan ketakutan dan ketidakbebasan. Saat itu adalah jaman bayi laki-laki dibunuh dan dikubur hidup-hidup tanpa rasa belas kasih.

Ibrahim dan keluarganya hidup di Zaman Raja Namrud (Nimrod) di Mesopotamia dikenal sebagai salah satu periode paling gelap dan keras dalam sejarah peradaban manusia kala itu. Namrud, dikenal sebagai penguasa yang sangat angkuh, zalim, dan mengaku sebagai Tuhan. Ia memaksa rakyatnya menyembah berhala dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Siapa pun yang menentang akan dibunuh tanpa ampun. Karena rasa takut akan masa depannya, Namrud memerintahkan tentara untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di wilayahnya.

Menurut Prof. Budu, kekejaman dan kezaliman yang nyata, dikisahkan dalam Alquran, ia memerintahkan pembakaran hidup-hidup terhadap Nabi Ibrahim as menggunakan api yang sangat besar, hingga asapnya menutupi langit seperti malam hari.

Baca juga :  Daeng Manye Bersama Wabup Takalar Disambut Ratusan Santri Ponpes Modern Mahyatul Qurra

“Namrud memiliki pasukan besar dan kekayaan melimpah, yang digunakannya untuk menindas rakyat dan menantang kebenaran. Suasana ini sangat berdampak secara sosial, sehingga rakyat hidup dalam ketakutan terus-menerus. Terjadi krisis moral dan akidah yang luar biasa sebab masyarakat terdoktrinasi oleh penyembahan berhala dan kultus individu terhadap raja. Terjadi kesejangan sosial yang begitu timpang dan kekayaan terkonsentrasi pada lingkungan istana, sementara rakyat kecil tertindas,” demikian Prof.Budu pada salat Idul Adha yang dihadiri sejumlah umat Islam tersebut. (mda)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!