“Saya jadi begini karena Pak Basir… ayahnya Ardhy.”
Kalimat itu terhenti.
Tenggorokannya tercekat.
“Saya tidak bisa lupa Pak Basir. Saya jadi wartawan nasional karena Pak Basir.”
Tangannya terangkat perlahan, menyeka air mata yang akhirnya jatuh juga. Ruangan yang biasanya riuh oleh debat dan opini mendadak hening. Beberapa kepala menunduk. Beberapa mata ikut basah.
Di usia yang tak lagi muda, setelah memimpin redaksi besar seperti Tribun Timur, Ronald mengakui sesuatu yang sederhana namun agung: manusia besar lahir dari kepercayaan kecil yang diberikan pada waktu yang tepat.
“Baru dua bulan saya pensiun dari Tribun Timur,” katanya sehari sebelumnya saat bertemu Ardhy.
Tanpa basa-basi, tanpa perhitungan panjang, ia langsung menyampaikan niatnya.
“Saya mau masuk ke PR.co.id.”
Kalimat itu bukan sekadar permintaan bekerja. Itu adalah pengakuan rindu.
Jawaban Ardhy pun singkat, namun hangat:
“Silakan Pak Ronald. Pintu Pedoman Rakyat selalu terbuka.”
Dan di situlah air mata itu menemukan maknanya.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya perpindahan tempat berkarya. Tetapi bagi Ronald, itu adalah perjalanan kembali ke rahim yang dulu melahirkannya sebagai wartawan. Seperti anak yang kembali ke pangkuan ibu setelah lama merantau.
Ia menyebutnya seperti kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Di usia 79 tahun media yang membesarkannya, seorang wartawan senior membuktikan satu hal yang tak pernah lekang oleh zaman: sejauh apa pun kita pergi, setinggi apa pun jabatan yang pernah kita sandang, hati selalu tahu di mana ia pertama kali dipercaya.
Rumah itu bukan gedung redaksi.
Bukan meja kayu tempat naskah diedit.
Bukan pula papan nama perusahaan.
Rumah adalah tangan yang dulu menepuk bahu kita dan berkata, “Saya percaya.”
Dan bagi Ronald Ngantung, rumah itu bernama Pedoman Rakyat. ( Ardhy M Basir )

