PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Ahad sore, 1 Maret 2026. Di sudut hangat Virendy Cafe, syukuran HUT ke-79 Pedoman Rakyat tak hanya diisi doa dan tawa. Ada suara yang bergetar. Ada kenangan yang bangkit pelan-pelan seperti debu lama yang tersentuh cahaya. Dan ada sepasang mata yang tak lagi mampu menyembunyikan rindu.
Di hadapan para undangan—90 persen wartawan, para pemburu fakta yang pernah akrab dengan bunyi mesin ketik, aroma tinta cetak, dan ketegangan deadline—Ronald Ngantung berdiri. Mantan Pemimpin Redaksi Harian Tribun Timur itu tak sedang menyampaikan sambutan. Ia sedang kembali menjadi anak muda yang dulu diterima tanpa banyak tanya.
Ia sedang pulang.
“Tahun 1973,” tuturnya lirih, “lewat rekan sekampung saya, almarhum Buce Rompas, saya diajak ke rumah almarhum Pak M. Basir.”
Nama itu seperti mengetuk pintu masa lalu.
Almarhum M. Basir—mantan Pemimpin Redaksi Pedoman Rakyat—bukan sekadar atasan. Ia guru. Ia penuntun. Ia sosok yang percaya sebelum orang lain sempat menilai.
Ronald mengingat pertemuan pertama itu seperti mengingat detik kelahiran kedua dalam hidupnya.
“Begitu ketemu, saya langsung ditugasi menangani tajuk rencana.”
Tajuk rencana.
Jantung media. Ruang paling sunyi sekaligus paling berani. Tempat redaksi mempertaruhkan sikap, mempertahankan nurani, dan menyuarakan kebenaran. Dan ruang itu diberikan kepada seorang anak muda yang bahkan belum sempat menghangatkan kursinya.
Tak ada masa percobaan. Tak ada bimbingan panjang. Hanya satu hal: kepercayaan.
Dan kepercayaan, bagi seorang pemula, adalah bahan bakar yang tak ternilai.
Tak lama kemudian, ia dikirim mengikuti pendidikan jurnalistik di Jakarta selama tiga bulan. Ia berangkat membawa nama Pedoman Rakyat, membawa harapan redaksi, dan mungkin juga doa seorang guru yang diam-diam menyertai langkahnya.
Ia pulang sebagai yang terbaik.
Namun lebih dari sekadar gelar, ia pulang dengan keyakinan bahwa dirinya layak berdiri di dunia yang keras bernama jurnalistik.
Hari-harinya setelah itu adalah rentetan liputan, rapat redaksi, lomba penulisan, dan perjalanan panjang membangun reputasi nasional.
Di berbagai ajang lomba, ada satu nama yang selalu membuatnya waspada: S. Sinansari Ecip dari Malang. Rival tangguh yang membuat setiap kompetisi terasa seperti pertarungan kehormatan.
Jika bukan Ecip yang juara satu, Ronald yang berdiri di podium tertinggi. Mereka dijuluki “pemburu juara”.
Namun sore itu, Ronald tak sedang berbicara tentang piala.
Ia sedang berbicara tentang akar.
Dengan suara yang mulai parau, ia menatap ke arah Ardhy M. Basir—Pimpinan Umum Pedoman Rakyat.co.id—putra dari guru yang pernah mengubah jalan hidupnya.

