Oleh: Muh. Thalib Ramadhan (Ramzi) Jurnalis Pedoman Rakyat
Lebaran di Indonesia selalu datang dengan satu pelajaran yang tak pernah usang: bahwa perbedaan adalah kenyataan yang harus dirangkul, bukan diseragamkan. Penetapan 1 Syawal yang kerap berbeda antara hisab dan rukyatul hilal seolah menjadi pengingat tahunan bahwa keyakinan dan cara pandang bisa berjalan di jalur yang tidak selalu sama. Namun di negeri yang terbiasa hidup dalam keberagaman, perbedaan itu tidak pernah benar-benar menjadi jurang. Ia justru menjadi ruang untuk belajar saling memahami, tanpa kehilangan arah kebersamaan.
Di balik dinamika itu, Lebaran tetap hadir sebagai momen yang menenangkan batin. Ia bukan sekadar tentang hari dan tanggal, melainkan tentang perjalanan spiritual yang mencapai puncaknya, “kembali pada kesederhanaan hati.” Di rumah-rumah sederhana hingga kota-kota besar, takbir berkumandang dengan getaran yang sama, meski mungkin pada waktu yang berbeda. Ketupat tersaji, tangan-tangan saling berjabat, dan kalimat maaf mengalir tanpa syarat. Semua itu menegaskan bahwa makna Lebaran jauh lebih luas daripada sekadar keseragaman waktu.

