PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Proses pencalonan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan belakangan ini menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Dinamika politik organisasi yang kian memanas beserta munculnya berbagai persyaratan tambahan dari panitia seleksi, dinilai berpotensi menjegal calon-calon potensial yang ingin bertarung.
Melihat kisruh yang kian meruncing di media massa, wartawan senior dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Syarifuddin May, akhirnya angkat bicara. Ia mengaku terus mencermati gelombang kritik dari sejumlah media online terkait keabsahan dan urgensi dari aturan-aturan baru yang diterapkan oleh pihak panitia.
Menurut Syarifuddin, beberapa persyaratan yang ada saat ini diduga sengaja dibuat untuk memberatkan figur-figur tertentu yang ingin maju dalam suksesi kepemimpinan PWI Sulsel. Jika tujuannya memang untuk menyaring pemimpin yang benar-benar berkualitas, ia menantang panitia seleksi untuk sekalian menambahkan satu syarat krusial lagi: adu debat visi-misi secara terbuka.
”Dengan beberapa persyaratan yang diduga memberatkan saat ini, kenapa tidak pihak panitia seleksi menambah lagi satu persyaratan sekalian? Sebaiknya, mereka yang lolos verifikasi diadu lagi dengan adu debat,” ujar Syarifuddin May saat diwawancarai, di rumahnya di Perumahan Griya Prima Tonasa Makassar, Senin (25/5).
Beda Kompetensi Jurnalistik dan Kemampuan Manajerial
Pria yang akrab disapa Syarif May ini menggarisbawahi sebuah realitas penting yang sering kali luput dalam pemilihan ketua organisasi pers. Menjadi wartawan yang hebat di ruang redaksi, sangat berbeda dengan menjadi pemimpin sebuah organisasi profesi besar seperti PWI.

