Cinta Itu Buta

Tanggal:

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : H Hasaruddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar

Seorang pangeran sebagai satu-satunya putera mahkota tiba-tiba jatuh sakit. Berbagai cara telah dilakukan untuk kesembuhannya, namun belum berhasil. Dalam kesedihannya, sang raja akhirnya melakukan sayembara untuk kesembuhan sang pangeran.

Masyarakat berbondong-bondong mendaftar untuk mengobati penyakit sang pangeran, hingga para tabib yang nemiliki keahlian mumpuni. Dari sekian banyak pendaftar, tak satu pun yang mampu mengobati penyakit sang pangeran. Dalam kekhawatirannya, sang raja memanggil Abu Nawas, dan meminta agar Abu Nawas bisa mengobati sang pangeran. Tanpa berpikir panjang, Abu Nawas menyanggupi permintaan sang raja.

Para tabib istana, juga para tabib yang telah berupaya mengobati sang pangeran namun gagal mencapai kesembuhan, meragukan kemampuan Abu Nawas. Puncaknya setelah melihat Abu Nawas, tidak menggunakan alat-alat ketabiban dalam upaya mengobati sang pangeran.

Bukan Abu Nawas, kalau menyerah begitu saja. Setelah menyatakan kesanggupannya, Abu Nawas meminta Raja menghadirkan seorang orang tua, yang senantiasa melakukan penggembaraan di masa mudanya.

Raja pun menyanggupi permintaan tersebut. Beberapa saat berselang, seorang orang tua hadir di hadapan Abu Nawas. Kemudian Abu Nawas meminta, agar orang tua tersebut menyebut satu-persatu nama-nama desa di bagian Selatan.

Ketika orang tua tersebut menyebut nama-nama daerah di bagian Selatan, Abu Nawas menempelkan telinganya ke dada sang pangeran. Setelah nama-nama daerah Selatan disebutkan, Abu Nawas meminta agar orang tua tersebut juga menyebut nama-nama desa bagian Utara, Barat, dan Timur. Setelah semua nama desa disebutkan, Abu Nawas mohon diri mengunjungi sebuah desa di bagian Utara.

Raja nampak heran dengan keinginan Abu Nawas dan menimpali, “Hai Abu Nawas, saya mengundang anda ke sini bukan untuk bertamasya.”

Baca juga :  Mencuri

“Ampun yang mulia, hamba tidak bermaksud bertamasya,” jawab Abu Nawas sembari mohon diri untuk menuju ke sebuah desa bagian Utara selama beberapa hari.

Sekembalinya dari pengembaraan, Abu Nawas menemui sang pangeran dan membisikkan sesuatu kemudian menempelkan telinganya ke dada sang pangeran.

Kemudian Abu Nawas menghadap sang raja, dan berkata, “Maaf paduka, apakah paduka masih menginginkan sang pangeran tetap hidup?”

1
2TAMPILKAN SEMUA
Berita sebelumnya
Berita selanjutnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Muharram, Awal Tahun Hijriyah Penuh Keberkahan, Dosen UNISAD : Ajak Umat Perbanyak Ibadah

PEDOMANRAKYAT, WAJO - Bulan Muharram menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriyah. Sebagai salah satu dari empat bulan suci...

Hari Raya Idul Adha, Syamsul Bahri : Mengenang Pengorbanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Sitti Hajar

PEDOMANRAKYAT, WAJO - Idul Adha adalah hari raya atau hari besar bagi umat Islam, hari raya Idul Adha...

Tujuh Golongan Manusia yang Mendapat Naungan di Padang Mahsyar

Oleh : Asnawin Aminudin (Komisi Kominfo MUI Sulsel / Majelis Tabligh Muhammadiyah Sulsel) RASULULLAH sallallahu alaihi wasallam pernah ditanya, “Ya...

Selagi Masih Ada Waktu

Oleh : Hasaruddin, Guru Besar UIN Alauddin Makassar Seusai menunaikan ibadah salat, kita senantiasa beristigfar memohon ampun kepada Allah...