spot_img

Budaya Demokrasi Ta’loko-loko

Bagikan:

Tanggal:

 

Oleh : Victor Da Costa
(Pemerhati Demokrasi Indonesia)

LANDASAN idiil dari para kaum reformis telah menjadi ketentuan perundang-undangan bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya di era reformasi, yang mana telah menjadi konsensus nasional dan merupakan komitmen bangsa dan negara terkait penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas kolusi, korupsi dan nepotisme, sebagai komitmen awal dari gerakan reformasi menuju cita-cita terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dalam
semangat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan guna mewujudkan Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi Indonesia dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai Persatuan Indonesia.

Cerminan hal ini nampak terlihat dengan jelas dalam ketentuan peraturan perundangan tentang Administrasi Pemerintahan, Administrasi Induk Kependudukan dan Grand Design Reformasi Birokrasi serta Otonomi Daerah yang disusul Otonomi Keuangan Desa maupun Perlindungan Masyarakat Adat, dimana ketentuan-ketentuan tersebut telah sangat berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara selama ini.

Bagi masyarakat perkotaan di Indonesia, masalah urbanisasi dan pengalihan fungsi lahan serta pergeseran nilai-nilai dan norma seiring perkembangan teknologi Informasi dan Internet, telah
mewarnai pola interaksi dan mobilitas penduduk. Dan Walikota sebagai seorang kepala rumah tangga dengan kewenangan otonominya, ibarat sang Panglima Perang bagi masyarakat dalam wilayah kerjanya. Dituntut kesiapan dan kesanggupan sang Panglima memerangi Radikalisme /
Sektarianisme, Terorisme dan Narkotika serta Monopoli dan Pencucian Uang yang dalam
prakteknya telah berkamuflase dengan berbagai kemasan terkini.

Pada akhirnya hal-hal tersebut diatas akan menjadi tolak ukur bagi kinerja Walikota maupun Pemerintah Kota. Partisipasi masyarakat yang merupakan landasan bagi kewenangan otonomi daerah, membutuhkan konsistensi dalam penegakan hukum serta pengayoman masyarakat, yang mana keduanya adalah merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Ibarat dalam skala laboratorium menurut pandangan kami, budaya demokrasi seharusnya dimulai dari Organisasi Rukun Warga maupun Organisasi Rukun Tetangga (organisasi sosial kemasyarakatan) dan akan menjadi cerminan Budaya Demokrasi dari masyarakat perkotaan.

Baca juga :  100 Alumni BLK Selayar Bakal Peroleh BLT BBM

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Pj Bupati Enrekang Ajak Warga Tanam Pohon di Pinggir Sunga, Hutan dan Lahan Kritis

PEDOMANRAKYAT, ENREKANG – Dalam rangka memperingati Hari Bumi tingkat Kabupaten Enrekang yang dipusatkan di halaman kantor Badan Penanggulangan...

BPVP Pangkep Gandeng Diskop UKM Pinrang Adakan Pelatihan bagi UMKM Pinrang

PEDOMANRAKYAT, PINRANG - Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan melakukan kegiatan pelatihan bagi para pelaku...

Perpisahan Siswa-siswi SMA Negeri 2 Enrekang, Pj Bupati Dr. Baba Beri Wejangan

PEDOMANRAKYAT, ENREKANG – Pj Bupati Enrekang Dr. H. Baba, SE. MM, menghadiri penamatan pelajar di UPT Sekolah Menengah...

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar dan Pengusaha Bugis Era Baru

Oleh: Jasruddin Daud M.(Ketua Majelis Profesor UNM/Ketua Dewan Pakar DPP-KKLR)  Sebagai Ketua Dewan Pakar Dewan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga...