Melawan Stigma “Kampung Narkoba”, Warga Tanjung Morawa A Protes Keras Framing Media

Ramzy
Ramzy 708 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, DELI SERDANG — Jengah dengan gelombang pemberitaan yang dinilai telah bergeser menjadi propaganda negatif, warga bersama perangkat Desa Tanjung Morawa A akhirnya angkat bicara. Mereka melayangkan protes keras terhadap isu peredaran narkoba di Dusun II, Jalan Kebun Sayur, yang belakangan ini dianggap hanya menjadi ajang penggiringan persepsi publik dan produksi stigma massal tanpa landasan hukum yang valid.

Kepala Dusun II, Rahmad, menegaskan bahwa masyarakat telah sampai pada titik jenuh melihat wilayah mereka terus-menerus diserang framing negatif. Menurutnya, citra Jalan Kebun Sayur sedang dihancurkan dengan narasi seolah-olah wilayah tersebut adalah zona tak bertuan yang bebas dari jangkauan hukum.

“Kami menolak mentah-mentah narasi menyesatkan ini. Jangan jadikan kedamaian kampung kami sebagai komoditas untuk mengeruk trafik atau sekadar konten murahan. Ini bukan lagi bentuk kontrol sosial, melainkan upaya pembunuhan karakter massal,” ujar Rahmad dengan nada bicara tegas, Senin (11/5/2026).

Rahmad menyadari bahwa kritik publik adalah bagian dari demokrasi. Meski begitu, ia melihat ada oknum yang sengaja melampaui batas dengan menciptakan judul-judul berita bombastis yang memaksa publik percaya bahwa seluruh penghuni Dusun II melindungi aktivitas terlarang.

“Jangan hanya karena satu asumsi, satu kampung lantas divonis lewat opini. Mayoritas warga di sini adalah orang-orang yang taat beribadah dan bekerja jujur. Namun akibat framing yang liar ini, seolah-olah kami semua adalah komplotan kriminal,” tambahnya.

Terkait isu kendaraan Fortuner putih yang dikaitkan dengan aparat kepolisian dan aktivitas mencurigakan, Rahmad memberikan bantahan telak. Ia menyebutkan bahwa narasi yang viral di media sosial tersebut hanyalah rumor tanpa data verifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Mobil Fortuner putih yang ramai diperbincangkan itu faktanya tidak pernah memasuki lokasi seperti yang dituduhkan. Itu juga bukan milik anggota kepolisian. Tolong berhenti memaksa asumsi agar terlihat seperti fakta hukum,” cetus Rahmad.

Baca juga :  Wali Kota Jaktim Dorong Pemanfaatan Lahan Kosong Lewat Panen Anggur Warga

Ia juga mengkritik tajam hilangnya etika jurnalistik pada beberapa media yang lebih mengejar sensasi dibanding akurasi. Penyematan julukan “Las Vegas Narkoba” untuk Jalan Kebun Sayur dianggap sebagai diksi yang provokatif, tendensius, dan sangat merendahkan martabat warga setempat.

“Itu adalah propaganda stigma yang sangat jahat. Nama baik warga yang tidak tahu apa-apa ikut hancur karena generalisasi tersebut. Bahasa-bahasa provokatif seperti itu hanya memperkeruh suasana,” lanjutnya lagi.

Lebih lanjut, Rahmad menyindir pihak-pihak yang dengan mudah melempar tuduhan ke ruang publik tanpa melakukan konfirmasi atau cross-check kepada perangkat desa maupun warga yang bersangkutan.

“Jalankanlah fungsi jurnalistik dengan benar. Jangan hanya mengambil narasi sepihak lalu dibungkus judul provokatif untuk memancing emosi. Media harusnya menjadi jembatan fakta, bukan mesin penyebar fitnah dan penghakiman,” tegasnya.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!