Menepuk Air di Dulang: Ketika Pejabat Alergi Kritik dan Gagap Memahami Pers

Ramzy
Ramzy 17 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Kritik pedas yang dilontarkan oleh Wakil Ketua DPD PJI Sulsel, Rizal Rahman, sangatlah berdasar. Pejabat publik tidak boleh “asal bunyi” (asbun) tanpa berani menunjuk hidung siapa yang dimaksud. Jika ada oknum yang melanggar kode etik, pemkot memiliki hak jawab atau bisa melaporkannya ke Dewan Pers, bukan malah melempar bom narasi yang merendahkan seluruh profesi jurnalis di Makassar.

​Alergi Kritik di Balik Narasi “Tukang Sulap”

​Mengapa pejabat sering kali menuduh tulisan wartawan berbeda dengan realitas acara? Jawabannya sederhana: karena realitas yang ditulis wartawan sering kali tidak sesuai dengan “skenario indah” yang diinginkan pejabat.

​Wartawan bukan juru foto yang hanya merekam senyum seremoni. Tugas jurnalis adalah menangkap substansi, membaca yang tersirat, dan mempertanyakan apa yang disembunyikan di balik kemegahan acara Balaikota. Ketika tulisan kritis muncul, menganggapnya sebagai “sihir” atau manipulasi adalah bentuk keputusasaan pejabat yang gerah dikontrol oleh publik.

​Makassar adalah kota jurnalisme yang mandiri dan berani. Menghadapi pers tidak bisa dengan mentalitas anti-kritik. Jika Wali Kota ingin dihargai oleh tinta para jurnalis, maka benahi kinerja birokrasi, bukan malah menyerang profesi yang mengawasinya.

​Jangan sampai publik menilai bahwa analogi “tukang sulap” itu sebenarnya sedang berbalik arah: menunjuk pada kebijakan-kebijakan pemkot yang tampak indah di atas kertas acara, namun realitanya lenyap begitu saja di lapangan.

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Pj. Bupati Sinjai Tabur 5 Ribu Ekor Benih Ikan Nila di desa Panaikang
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!