Menjaga Tenun Kebangsaan: Suara PSMTI di Balik Riuh Polemik Paskibraka

Ramzy
Ramzy 24 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

​Melihat Fakta, Bukan Asumsi

​Sebagai bagian dari komunitas Tionghoa, Ariella mengaku prihatin melihat bagaimana sebuah dinamika kompetisi bisa dengan cepat ditarik menjadi narasi diskriminasi etnis di ruang publik. Ia sendiri secara objektif menilai tidak ada unsur diskriminasi dalam kasus ini. Baginya, setiap persoalan bangsa harus diletakkan pada porsi yang tepat: berdasarkan fakta dan data, bukan asumsi liar.

​”Kami sangat menyayangkan ketika isu etnis kemudian diangkat dan berkembang menjadi narasi diskriminasi maupun rasisme. Saya sendiri orang Tionghoa, tetapi saya yakin dalam kasus ini tidak ada diskriminasi,” cetusnya, mencoba meluruskan persepsi yang telanjur bias di jagat maya.

​Ruang Pembelajaran Bersama

​Pada akhirnya, polemik Paskibraka ini diharapkan tidak meninggalkan luka sosial, melainkan menjadi cermin besar bagi seluruh elemen bangsa. Ariella berharap publik bisa menahan diri, menjaga situasi tetap kondusif, dan tidak terburu-buru menarik kesimpulan yang kontraproduktif bagi persatuan.

​”Mari kita bergotong royong dan bersama-sama membangun NKRI. Apa yang terjadi dalam polemik Paskibraka ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jangan terlalu cepat menggunakan isu diskriminasi atau rasisme sebelum seluruh fakta terungkap,” pungkasnya penuh harap.

​Di ujung hari, merah putih yang berkibar di tangan para Paskibraka adalah lambang milik bersama—sebuah pengingat bahwa di bawah bendera yang sama, semua anak bangsa berhak maju atas dasar kemampuan dan berdiri setara sebagai saudara. (Ardhy M Basir)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Polres Tator Sukses Amankan Kejurda Road Race di Rantetayo
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!