Tari Sebagai Bahasa Global
Penulis dan pengamat seni, Baghawan Ci, menekankan bahwa Hari Tari Sedunia—yang diinisiasi UNESCO untuk menghormati Jean-Georges Noverre—memiliki misi penting sebagai bahasa universal.
“Menari bukan hanya gerak formal, tapi alat perdamaian. Di Makassar, kita melihat bagaimana tradisi diolah ulang dengan sentuhan baru sehingga terasa sangat relevan bagi Gen Z,” ungkapnya.
Inovasi dan Masa Depan Industri Kreatif
Selain sebagai tontonan, perhelatan ini membawa misi besar, urai Baghawan Ci:
1. Ekspresi Budaya Lokal: Melestarikan warisan leluhur tanpa meninggalkan nilai modern.
2. Ruang Kolaborasi: Menjadi titik temu seniman, fotografer, videografer, hingga pelaku ekonomi kreatif.
3. Diplomasi Budaya: Mengenalkan kekayaan Sulawesi Selatan ke panggung dunia.
Kesuksesan “Makassar Menari 2026” memicu harapan agar acara ini menjadi agenda tahunan. Kedepannya, direncanakan adanya pengembangan berupa workshop penciptaan tari, penulisan tari, hingga kompetisi Dance On Screen (tari format video) untuk memperluas edukasi seni tari di era digital.
Melalui inovasi ini, seni tari diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga motor penggerak industri kreatif yang mampu menyejahterakan para pelakunya di masa depan.
Laporan: Tim Redaksi Budaya/RK
Sumber: Baghawan Ci (Pengamat Seni Pertunjukan)

