Merespons badai kritik tersebut, Ketua Panitia Pelaksana Konferprov PWI Sulsel, Faisal Palapa, akhirnya angkat bicara dan mengakui bahwa lokasi acara memang masih mengambang. Ia berdalih, panitia saat ini tengah memutar otak untuk menyiasati antara kebutuhan logistik dan realitas isi dompet panitia/organisasi.
“Kami masih harus menyesuaikan dengan kondisi dana yang tersedia saat ini. Namun untuk waktu eksekusinya, kami pastikan tetap on schedule pada 2 Juni 2026,” ungkap Faisal saat dikonfirmasi via telepon, Jumat (22/5/2026) siang.
Alih-alih meredakan situasi, pembelaan tersebut justru memantik reaksi yang lebih keras. Anggota menilai panitia terlalu memaksakan diri dan keras kepala karena tetap mengejar tanggal tayang di saat komponen paling krusial seperti tempat acara belum juga rampung.
Kini, desakan agar panitia buka-bukaan semakin tak terbendung, mulai dari transparansi aliran dana, utak-atik DPT, hingga draf tata tertib sidang. Para anggota tidak ingin hajatan sakral PWI Sulsel ini justru merosot menjadi ring tinju internal yang berujung mempermalukan citra profesi jurnalis di mata publik.
Gema tuntutan evaluasi total pun mulai bersahutan dari berbagai daerah. Sejumlah pengurus daerah mendesak PWI Pusat segera turun gunung melakukan supervisi ketat demi menyelamatkan jalannya Konferprov agar tetap berada di rel konstitusi organisasi dan marwah demokrasi.
Hingga saat ini, potret buram seputar misteri lokasi, manipulasi DPT, dan independensi panitia masih menjadi komoditas perbincangan hangat di warung-warung kopi jurnalis. Atmosfer menjelang hari-H Konferprov PWI Sulsel pun dipastikan makin membara, diselimuti kabut ketidakpastian yang pekat. (*)

