Tim Program PARKIR Rasakan Suasana Ramadan di Pulau Barrang Lompo Makassar, Makan Sate Teripang

Ramzy
Ramzy 769 Pembaca
11 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Rusdin Tompo (Penulis, Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

Perjalanan dengan KM Rinjani Jaya dari Dermaga Kayu Bangkoa, Jalan Pasar Ikan, ke Pulau Barrang Lompo terasa menantang bagi saya. Apalagi saat tengah melaksanakan ibadah puasa Ramadan, seperti sekarang. Bukan soal panas dan haus, tetapi perkara laut dan ombaknya.

Saya termasuk orang yang mudah oleng alias mabuk laut bila berada di atas perahu atau kapal. Makanya, ketika KM Rinjani Jaya masih bersandar di dermaga, untuk menunggu penumpang dan menaikkan barang, saya lebih memilih tidak berada di atas kapal–duduk bersama penumpang lainnya.

Perjalanan Kurang dari Sejam

Meski sudah berada di dermaga sebelum pukul 10.00, tetapi saya baru naik ke kapal, beberapa saat setelah akan bertolak dalam perjalanan menempuh jarak sekira 13 kilometer, menuju pulau yang masuk Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar itu.

Tarif per orang ke Barrang Lompo, sebesar Rp15.000. Begitupun dengan sepeda motor, dikenakan ongkos yang sama. Sekali berangkat, KM Rinjani Jaya bisa memuat 100 penumpang, dan lebih dari 10 sepeda motor.

Saya diajak Luna Vidya untuk kegiatan Pra-PARKIR oleh WRI (World Resources Institute) Indonesia.

Hari itu, Tim WRI terdiri dari Stella Hutagalung, Mutiara Kurniasari (Ketua Tim Makassar), Rizzah Aulifia, dan Keisha Rahadini.

Saya masuk dalam tim fasilitator bersama Daeng Maliq, Mira Mahirah, dan Amy. Ikut pula Jonah, dan Diar, pendampingnya Daeng Maliq.

Kami akan melakukan studi penjajakan (scoping study) di Pulau Barrang Lompo dan Pulau Lakkang, Selasa-Rabu, 3-4 Maret 2026.

Pukul 11.00, KM Rinjani Jaya berangkat meninggalkan demaga yang berada di Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang itu.

Saya sempat menoleh ke belakang. Melihat bangunan Hotel Makassar Golden yang berada di sisi kiri, dan Hotel Pantai Gapura, yang berada di sisi kanan dermaga.

Baca juga :  Embung Tak Kunjung Dibangun, Warga Cakung Barat Desak Pemerintah Bertindak Cepat

KM Rinjani Jaya, milik H Abdul Gaffar, 60 tahun. Pria asal Bonto Rannu, Mariso ini, bersama istrinya, Hajah Jani, mengelola kapal layaknya perusahaan keluarga.

Hari itu, 5 dari 7 anak mereka terlibat. Jamal bertindak sebagai nakhoda, sementara saudara-saudaranya yang lain bahu-membahu, mengatur arus penumpang, sepeda motor, dan barang yang akan diangkut ke Pulau Barrang Lompo.

Sepeda motor diatur rapi di atas haluan, dan diikat agar tidak goyang saat ombak.

Di tengah perjalanan, kapal terasa bergoyang. Terdengar ada penumpang yang bilang, kalau ombaknya kencang.

Jamal meralatnya. Katanya, itu bukan ombak tetapi arus air akibat angin laut.

“Kapalnya goyang karena melawan arus. Ini pengaruh mau mi masuk angin muson timur,” jelas H Gaffar.

Sebagai orang awam, saya manggut-manggut mendengar penjelasan sederhana itu. Pengalaman H Gaffar dan Jamal, membuat mereka belajar dari angin dan laut, sehingga bisa membaca kondisi alam.

Setelah memakan waktu perjalanan kurang dari satu jam, KM Rinjani Jaya akhirnya tiba di Dermaga Pulau Barrang Lompo.

Jam tangan saya menunjuk angka pukul 11.55.

Studi Penjajakan Tim Pra-PARKIR

Setelah tiba di Barrang Lompo, kami menuju Penginapan & Kos “Balla Jeknek”, yang berada persis di samping kiri dermaga.

Saya menduga nama penginapan ini terkait dengan posisinya yang berada tepat di atas air laut. “Balla Jeknek” dalam bahasa Makassar, artinya rumah air.

Penginapan milik Haji Ella ini cukup strategis dan relatif aman karena bersebelahan dengan kantor polisi dan dekat Kantor Kelurahan Barrang Lompo.

Setelah menaruh barang, kami menuju ke rumah Mardiana, yang merupakan warga Pulau Barrang Lompo.

Di rumah wanita berhijab yang akrab disapa Daeng Dadi ini, kami berkenalan, bertukar pengalaman, berdiskusi.

Baca juga :  Tangis Kehilangan Iringi Kepergian Syamsuddin Melody, Gitaris Legendaris Danau Tempe Tahun 78

Muti menjelaskan tentang Program PARKIR, akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi.

Program PARKIR oleh WRI Indonesia adalah inisiatif penelitian kolaboratif dan pengarsipan pengetahuan untuk mendorong mobilitas kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Program ini didukung oleh UKPACT untuk mengatasi tantangan transportasi kelompok rentan.

Kegiatan yang lebih terasa sebagai obrolan ini, berlangsung di teras rumah Daeng Dadi, yang diteduhi pohon jambu dan pohon mangga. Kami duduk lesehan, melingkar.

“Kegiatan ini, merupakan Pra-PARKIR untuk mengumpulkan data dan informasi,” terang Muti.

Rizza menambahkan, Program PARKIR pertama sudah diadakan di Palmareh, Jakarta Barat. Dari situ mereka mendapat gambaran tentang pengalaman warga kampung kota dan tantangan mobilitas.

Untuk memahami lanskap transportasi secara nasional, studi PARKIR diadakan di tiga kota utama, yakni Makassar, Surabaya, dan Semarang. Studi yang sama dilakukan juga di wilayah perkampungan kota di Jakarta Barat, seperti Palmerah.

Di tengah-tengah diskusi, sesekali terdengar teriakan pedagang kue keliling menawarkan jualannya: jalangkote… jalangkote….

Daeng Maliq bilang, “Wah, kayaknya ini kode.” Celetukan itu disambut gelak tawa kami.

Karena teriakan yang sama kembali berulang, saya sampaikan bahwa wajar kalau dia kembali lagi. Karena jalan di pulau ini ya itu-itu saja, dan terhubung satu dengan lainnya. Tidak akan bisa nyasar.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!