Di Bawah Hujan dan Cahaya Ramadan, “Arsitektur Jiwa” Diluncurkan Sambil Berbagi untuk Anak Lorong

Ramzy
Ramzy 610 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Hujan deras yang turun disertai angin kencang pada Sabtu sore itu tak mampu meredam semangat sepuluh penulis yang berkumpul di pelataran Telkom, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar. Di tengah rintik yang sesekali berubah menjadi guyuran, mereka tetap melangsungkan peluncuran buku “Arsitektur Jiwa”, sebuah karya kolaboratif yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama serta berbagi bingkisan kepada anak-anak lorong binaan Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), Sabtu (07/03/2026).

Suasana sederhana namun hangat itu menghadirkan perpaduan antara literasi, kebersamaan Ramadan, dan kepedulian sosial. Sepuluh penulis yang terlibat dalam buku tersebut yakni Asrul Sani Abu, Osy Oskar, Anas In Action, Ahmad Yusran Arief, Wanti Eldrin, Heny Suhaeny, Rahman Rumaday, Gerhanita Syam, Muliadi Halide, dan Risnawati Anwas.

Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap karya literasi, tetapi juga menjadi momen berbagi kebahagiaan dengan 21 anak lorong binaan K-Apel yang turut hadir meramaikan acara.

Acara dipandu oleh Heny Suhaeny sebagai moderator. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah dalam bahasa Makassar oleh Salma dan Nabila, dua anak binaan K-Apel. Lantunan ayat suci yang mereka bawakan menghadirkan suasana khidmat di tengah udara yang basah oleh hujan.

Dalam pengantar kata, penyelaras buku Arsitektur Jiwa, Rahman Rumaday, menjelaskan bahwa judul buku tersebut dipilih bukan sekadar terdengar intelektual, melainkan mewakili gagasan besar yang dihimpun dalam tulisan para penulis. Ia mengutip pemikiran Viktor E. Frankl yang menyebutkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah arsitek bagi jiwanya sendiri.

Menurut Rahman, buku ini merupakan pertemuan sepuluh penulis dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Setiap tulisan menghadirkan refleksi bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan bangunan yang terbentuk dari pengalaman, ujian, dan keyakinan.

Baca juga :  Gerak Jalan Santai IKB PPSP IKIP UP: Menjaga Kesehatan dan Kebersamaan

Ia juga mengungkapkan bahwa proses menyelaraskan naskah dalam buku ini bukan sekadar pekerjaan teknis penyuntingan, tetapi perjalanan memahami ruang batin para penulis. Tantangan yang dihadapi bukan hanya merapikan kata, tetapi menjaga ruh tulisan agar tetap utuh. Rahman pun mengingatkan pesan Ernest Hemingway tentang pentingnya kejujuran dalam menulis: menulislah dengan jujur dan lugas tentang apa yang benar-benar dirasakan.

Sementara itu, Pembina APINDO Herman Agus dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan literasi seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat.

Apresiasi serupa juga datang dari Kepala Dinas Perpustakaan Kota Makassar yang diwakili oleh Tulus Wulan Juni. Dalam sambutan yang dibacakannya, ia menyampaikan bahwa peluncuran buku ini bukan sekadar perayaan lahirnya sebuah karya, tetapi juga menjadi ruang dialog antara penulis, pegiat literasi, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Menurutnya, judul Arsitektur Jiwa memiliki makna yang mendalam. Jika arsitektur biasanya berkaitan dengan pembangunan fisik, maka arsitektur jiwa berbicara tentang bagaimana manusia merancang dan membangun batin serta karakter dirinya. Makna ini terasa semakin relevan dengan momentum bulan suci Ramadan yang menjadi waktu refleksi dan perbaikan diri bagi umat Muslim.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang mencatat bahwa pada tahun 2025 terdapat 25.843 penerbit di Indonesia. Namun yang aktif hanya sekitar 10.148 penerbit atau sekitar 39 persen. Di Sulawesi Selatan sendiri tercatat ada 818 penerbit dengan 331 penerbit aktif atau sekitar 41 persen. Meski demikian, Sulawesi Selatan tetap berada pada peringkat ketujuh sebagai daerah dengan jumlah penerbit terbanyak dan teraktif di Indonesia.

Baca juga :  UPT SPF SMP Negeri 40 Makassar Gelar MPLS

Ia menegaskan bahwa literasi merupakan sebuah ekosistem yang terdiri dari enam unsur penting, yakni penulis, buku, penerbit, toko buku, perpustakaan, dan pembaca. Keenam unsur tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Peluncuran buku ini juga menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan pandangan tentang literasi dan pembangunan karakter melalui tulisan, di antaranya Dr. Alimuddin Sa’ban Miru dari Universitas Negeri Makassar serta Rezky Amalia Syafiin, Duta Baca 2018.

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh literasi dan pengusaha di Sulawesi Selatan, di antaranya Ketua REI Sulawesi Selatan Sudarman, Sekjen ALFI H. Muh. Hatta, Ketua DPP Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Muh Amir Jaya, Sekjen Forum Sastra Indonesia Timur (FOSAIT) Anwar Nasyaruddin, serta sejumlah tokoh literasi lainnya seperti Syahrir Rani Dg Nassa, Andi Marliah, dan Andi Ruhban.
Sejumlah mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar juga hadir menyimak jalannya diskusi.

Menjelang waktu berbuka puasa, suasana semakin hangat. Para penulis, tamu undangan, dan anak-anak lorong duduk bersama menikmati hidangan berbuka. Di tengah hujan yang masih turun perlahan, kebersamaan itu menjadi penutup yang manis bagi sebuah acara literasi yang lahir bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari kepedulian dan harapan. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!