Berbagai persoalan strategis sektor pangan juga dibahas dalam forum tersebut, mulai dari ketersediaan dan harga pupuk, irigasi, distribusi, harga pangan, logistik, pembiayaan, penggunaan teknologi, hingga akses pasar.
Menurut dia, pendekatan Rembug Tani mengubah pola lama dari pemerintah yang hanya memberi instruksi menjadi pemerintah yang mendengar langsung kebutuhan petani.
“Langkah itu penting untuk mencari solusi konkret atas berbagai persoalan di lapangan, seperti kelangkaan pupuk, distribusi benih, serangan hama, kerusakan irigasi, turunnya harga gabah, dominasi tengkulak dalam rantai pangan, hingga dampak cuaca ekstrem,” ujar Viva Yoga melalui sambungan telepon, Selasa (12/5/2026).
Melalui forum tersebut, koordinasi distribusi pupuk diharapkan semakin baik, penyelesaian persoalan di lapangan dapat dipercepat, serta ketahanan dan kedaulatan pangan nasional makin kuat. Selain itu, konsep tersebut dinilai mampu menghidupkan kembali tradisi musyawarah dan gotong royong dalam pembangunan sektor pertanian, tandas Wamen Viva Yoga Mauladi. (Hdr)

