Di Bawah Hujan dan Cahaya Ramadan, “Arsitektur Jiwa” Diluncurkan Sambil Berbagi untuk Anak Lorong

Ramzy
Ramzy 608 Pembaca
5 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Hujan deras yang turun disertai angin kencang pada Sabtu sore itu tak mampu meredam semangat sepuluh penulis yang berkumpul di pelataran Telkom, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar. Di tengah rintik yang sesekali berubah menjadi guyuran, mereka tetap melangsungkan peluncuran buku “Arsitektur Jiwa”, sebuah karya kolaboratif yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama serta berbagi bingkisan kepada anak-anak lorong binaan Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), Sabtu (07/03/2026).

Suasana sederhana namun hangat itu menghadirkan perpaduan antara literasi, kebersamaan Ramadan, dan kepedulian sosial. Sepuluh penulis yang terlibat dalam buku tersebut yakni Asrul Sani Abu, Osy Oskar, Anas In Action, Ahmad Yusran Arief, Wanti Eldrin, Heny Suhaeny, Rahman Rumaday, Gerhanita Syam, Muliadi Halide, dan Risnawati Anwas.

Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap karya literasi, tetapi juga menjadi momen berbagi kebahagiaan dengan 21 anak lorong binaan K-Apel yang turut hadir meramaikan acara.

Acara dipandu oleh Heny Suhaeny sebagai moderator. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan sari tilawah dalam bahasa Makassar oleh Salma dan Nabila, dua anak binaan K-Apel. Lantunan ayat suci yang mereka bawakan menghadirkan suasana khidmat di tengah udara yang basah oleh hujan.

Dalam pengantar kata, penyelaras buku Arsitektur Jiwa, Rahman Rumaday, menjelaskan bahwa judul buku tersebut dipilih bukan sekadar terdengar intelektual, melainkan mewakili gagasan besar yang dihimpun dalam tulisan para penulis. Ia mengutip pemikiran Viktor E. Frankl yang menyebutkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah arsitek bagi jiwanya sendiri.

Menurut Rahman, buku ini merupakan pertemuan sepuluh penulis dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Setiap tulisan menghadirkan refleksi bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan bangunan yang terbentuk dari pengalaman, ujian, dan keyakinan.

Baca juga :  75 Pelajar SMAN 2 Parepare Tembus SNBP 2026, Kepala UPT : Hasil Kerja Kolektif Sekolah

Ia juga mengungkapkan bahwa proses menyelaraskan naskah dalam buku ini bukan sekadar pekerjaan teknis penyuntingan, tetapi perjalanan memahami ruang batin para penulis. Tantangan yang dihadapi bukan hanya merapikan kata, tetapi menjaga ruh tulisan agar tetap utuh. Rahman pun mengingatkan pesan Ernest Hemingway tentang pentingnya kejujuran dalam menulis: menulislah dengan jujur dan lugas tentang apa yang benar-benar dirasakan.

Sementara itu, Pembina APINDO Herman Agus dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan literasi seperti ini sangat penting untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!